Gratia
Gratia
Malam itu hawa terasa mencekam, cahaya rembulan menembus celah jendela sebuah kamar. Di sudut ruangan yang terasa pengap, ada seorang gadis—bernama Alena, ia adalah seorang tunanetra.
Alena teringat akan semua perkataan temannya yang menyakitkan, pertikaian orang tuanya yang tak pernah selesai. Meski begitu Alena tak pernah mengeluh, ia selalu menghadapinya dengan sabar.
Ia tertunduk lesu, tangannya merengkuh kedua lutut, seraya menenggelamkan kepalanya. Suara hembusan napasnya memburu, badannya bergetar hebat. “kenapa… kenapa… kenapa…” suaranya serak, semakin lirih.
Perlahan ia mengangkat kepalanya. Alena meraba sekeliling, hingga ia meraih buku sketsanya, dan sebuah pensil. Ia mencoret-coret kertas tersebut, tak beraturan. Meski rasa gundah di hatinya Bagai badai yang terus menerjang, coretan tanpa makna itu berarti baginya.
🥀🥀🥀
Flashback on
“Huu huu huu… dasar buta.” “Kasihan tidak bisa lihat.” Begitulah kira-kira yang didengar setiap harinya oleh Alena. Rundungan dari teman-teman di sekolah, membuat hatinya terkoyak.
Tak jarang temannya tidak hanya memperolok. Tetapi juga sering melemparinya kertas. Bahkan pernah ada seorang teman yang menarik kursinya saat ia ingin duduk. Hingga Alena terjatuh, lalu masuk rumah sakit, ia mengalami cidera yang cukup serius.
Mungkin menurut temannya, itu hanyalah candaan. Tetapi menurutnya itu sudah sangat keterlaluan.
Ia sudah sering melaporkan tindakan temannya ke guru. Namun para guru hanya menyuruhnya untuk sabar. “Sudahlah Alena. Teman-temanmu itu hanya bercanda, tidak perlu menganggapnya serius.”
Alena tidak terima dengan pernyataan gurunya. Ia menyangkal, “tidak bisa begitu Bu. Saya sampai masuk rumah sakit, karena ulah teman saya.”
“Ahh, sudahlah. Lagipula, kamu tidak sampai patah tulang kan?. Temanmu juga bertanggung jawab, atas biaya rumah sakit kamu kemarin.” Sang guru masih terus menyangkal.
Alena merasa jengah dengan sikap gurunya. Ia lalu mengangkat tongkatnya dan meraba sekitar dengan hati-hati, membalikkan badan dan, meninggalkan gurunya.
🥀🥀🥀
Alena selalu merasa bahwa dunia tak adil kepadanya. Di saat teman-temannya bisa mendapat kasih sayang yang utuh—dari orang tua mereka. Ia hanya bisa diam, tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Karena menurut orang tuanya, Alena hanyalah beban yang dititipkan kepada mereka.
Di rumah, yang bisa Alena dengar hanyalah pertikaian orang tuanya, yang saling menyalahkan.
“Akhh. Kenapa sih harus ada anak itu. Benar-benar pembawa sial.” Ujar Ibu Alena.
Meski Ibunya tidak mengatakan hal itu secara langsung. Tapi ia bisa mendengar bising suara dari kamar orang tuanya.
“Akhh. Kamu bisa diam tidak. Aku juga bingung harus bagaimana. Kamu juga seharusnya membantu aku mencari uang, bukan hanya bisa menghabiskan saja.” Ayahnya menimpali.
Alena yang mendengar pertikaian orang tuanya hanya bisa menutup mulutnya, dan menahan isak tangis yang sangat menyesakkan dadanya.
Flashback off
🥀🥀🥀
Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin. Berusaha menguatkan dirinya, naasnya ia gagal. Perlahan air mata luruh membasahi pipinya, seiring dengan ingatan pahit yang membanjiri pikirannya.
Alena lelah menghadapi semuanya sendirian. Tubuhnya luruh pada pelukan lantai yang dingin—Alena terlelap.
🥀🥀🥀
Alena terbangun di tempat yang terasa asing baginya. Meski ia tak bisa melihat, ia bisa merasakan bahwa ia tak berada di atas lantai beton, tetapi di sebuah hamparan rumput tak berujung. Aroma wangi bunga menyusup ke lubang hidungnya, ia tersenyum samar.
Hingga ia mendengar, suara yang terasa asing memanggilnya, “Alena.” Suaranya terdengar merdu, menenangkan.
Lalu ia mendengar gesekan rumput, ada seseorang yang duduk di sebelahnya—menepuk bahunya. Alena terperanjat, suaranya tercekat. “Ka-kamu… siapa?” tanya dengan badan yang mulai bergetar, pelupuknya mulai basah.
“Hei tenang saja. Namaku Eirene. Mulai sekarang aku adalah temanmu.” Ucapnya, seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Oh, iya. Maaf kamu tidak bisa melihat ya.” Ujar Eirene, gelagapan, ia merasa bersalah.
“Ah, i-iya. Tidak apa-apa.” Jawab Alena, dengan intonasi yang sangat pelan.
“Kamu pasti penasaran kan ini di mana?.” Tanyanya, dengan nada Santai, diiringi sedikit kekehan di belakang. Eirene berusaha mencairkan suasana, dan membuat Alena merasa nyaman.
“Memangnya kita di mana?. Tempat ini sangat asing bagiku.” Jawab Alena, dengan kerutan di dahinya. Ada rasa bingung, ingin tahu, juga rasa takut dalam hatinya.
Eirene tersenyum tulus ke arah Alena. “Kita berada di Gratia.”
“Gratia?.” Alena mengulangi pernyataan Eirene. Tak lupa dengan wajahnya yang masih dipenuhi kebingungan.
“Iya. Ini adalah Gratia. Tempat yang akan membawa kamu menemukan Solusi dari permasalahan yang sedang kamu hadapi.” Eirene kembali menepuk bahu Alena. “Apa ada yang mau kamu ceritakan ke aku?. Kalau ada, aku akan mendengarkannya dengan sepenuh hati.”
Alena merasa sedikit ragu.
“Kamu tidak perlu sungkan, aku di sini siap mendengarkan seluruh cerita kamu.” Ujar Eirene, kembali meyakinkan Alena.
“Eumm. Aku…” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, air mata Alena luruh. Ingatan tentang hal menyakitkan yang ia alami kembali membanjiri pikirannya.
Dengan tenang Eirene mengusap air mata Alena yang luruh. “Tidak apa-apa cerita saja.”
“Aku… aku capek sama dunia ini. Aku merasa kalau dunia tidak adil. Teman-temanku bisa mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Mereka juga memiliki fisik yang sempurna—mereka bisa melihat. Tapi aku…, aku tidak mendapat kasih sayang sedikitpun dari orang tuaku, mereka hanya menganggapku sebagai beban yang hadir di tengah-tengah mereka. Orang tuaku selalu menyalahkan kehadiranku, padahal aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan.” Diiringi isak tangis yang terdengar, dan buliran air mata yang terus mengalir. Alena mengeluarkan semua isi hatinya, yang selama ini mengendap di dalam hatinya.
Eirene yang mendengar semuanya mengulas senyum tulus di bibirnya. “Alena, dengar ya. Semua orang itu memiliki kekurangan dan kelebihan. Kamu memang tidak bisa melihat, tapi coba ingat, apa yang kamu punya.”
Alena tertegun, mendengar penuturan Eirene. “Aku bisa menggambar!.” Jawabnya dengan semangat, lalu ia berdiri. “Eirene, cepat deskripsikan tempat ini, aku akan mengingatnya. Dan saat aku kembali ke rumah, aku akan melukis tempat ini. Agar orang lain bisa tahu ada tempat, di mana semua orang bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggu pikirannya”
Eirene yang mendengarnya, tersenyum. Ia ikut berdiri, meraih tangan Alena dan menggenggamnya. “Gratia adalah tempat yang indah. Ada padang rumput luas yang menyelimuti, banyak bunga-bunga bermekaran. Banyak kupu-kupu, juga burung yang selalu berterbangan.” Eirene menjelaskan semuanya dengan semangat. Ia melihat ulasan senyum terukir di wajah indah Alena.
Alena menoleh ke arah Eirene, tentunya dengan senyum yang terukir indah di wajahnya. “Eirene, terimakasih ya. Kamu satu-satunya orang yang mau menjadi tempat, untuk aku menceritakan segala keluh kesahku.”
Eirene mengangguk, senyum itu masih belum luntur dari wajahnya. “Ingat Alena, kamu itu berharga. Hanya saja, orang di sekitarmu, tidak mengetahui seberapa berharga dirimu. Kamu harus terus semangat ya!.”
Alena menganggukkan kepalanya, dengan mantap, “hem.”
Perlahan cahaya putih menyelimuti tubuh Alena, secara perlahan memudar— menghilang dari pandangan Eirene.
🥀🥀🥀
Tak terasa sinar rembulan, kini telah menghilang. Digantikan oleh sinar mentari, yang cahayanya mengenai permukaan wajah Alena.
Alena terbangun, ia meraba sekitar, dan yakin bahwa sekarang ia berada di kamarnya. Alena segera meraih buku sketsa, yang biasa ia gunakan untuk menggambar, juga sebuah pensil .
Alena menggambarkan semua yang ada di ingatannya. Meski ia memiliki keterbatasan dalam melihat, Alena memiliki kelebihan yakni ingatan yang kuat.
Setelahnya Alena merengkuh buku tersebut, dan berkata pada dirinya sendiri, “Alena, kamu berharga. Kamu mempunyai kelebihan. Kamu harus kembali berjuang sekarang. Bukan kamu yang tidak bisa melihat mereka, tapi mereka yang tidak bisa melihat kelebihan yang kamu miliki.”
Alena juga berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan memperdulikan orang yang memang tidak peduli kepadanya, juga orang yang hanya bisa menyakitinya.
🥀🥀🥀
Karya: Daniela Aurora Azzahra | Daurazz
Komentar
Posting Komentar