Eteria: Harga Dari Sebuah Impian

Eteria: Harga Dari Sebuah Impian

Matahari senja melelehkan warna keemasan di langit, memantul di jendela rumah kecil di ujung desa. Di dalamnya, suara tangisan bayi berpadu dengan bunyi sendok yang tergesa di atas meja. Sang Ibu duduk di kursi reyot, wajahnya pucat dan mata sayu seperti tak pernah tidur.

“Kamu sekolahnya sampai SMP saja, ya, Nak” ucapnya pelan namun tegas. Sorot matanya lelah, bibirnya bergetar seolah setiap kata adalah beban.

Darlya menatap ibunya tak percaya. “Bu… Ibu sudah janji aku bisa sekolah sampai sarjana. Jangan bercanda,” suaranya meninggi.

Ibu menarik napas panjang, pundaknya turun perlahan. “Ayahmu sudah tiada, Nak. Ibu harus kerja sendiri, adikmu butuh susu. Untuk makan pun kita sering berhutang. Ibu tak sanggup.”

Darlya menunduk, tangannya mengepal. “Tapi Bu, aku ingin mengubah nasib kita. Kalau aku berhenti sekolah, semua impian itu hilang.”

“Impian tidak bisa membuatmu kenyang!” seru sang Ibu. Suaranya pecah, dan sesaat kemudian hanya terdengar tangisan bayi. Ibu buru-buru masuk ke kamar, meninggalkan Darlya yang tercekat, hatinya hancur.

Ia berlari keluar rumah, kekecewaan yang mendalam membuat air mata luruh membasahi wajahnya. Sore meredup menjadi malam. Jalanan sepi, hanya suara jangkrik menemani langkahnya yang tergesa. Hingga ia sampai di tepi hutan.

✨✨✨

Hutan itu gelap, hanya cahaya rembulan menembus celah daun. Udara menusuk kulit, dinginnya menembus tulang. Darlya duduk bersandar pada pohon besar. Badannya terasa letih, matanya terasa perih karena air mata yang terus mengalir. 

Ia mencoba membuat api dari ranting. Nyala kecil bertahan sebentar, lalu mati. Tangannya gemetar, bibirnya membiru.

Di tengah keputusasaan yang Darlya rasakan, muncul cahaya putih keemasan yang sangat menyilaukan dari bawah tanah. Dengan setengah kesadaran yang masih Darlya miliki, sayup-sayup ia mendengar suara menggema yang entah dari mana asalnya, mengiringi tubuh Darlya yang melayang ringan, lalu hilang seketika.

✨✨✨

Ia terbangun di sebuah kamar yang wangi seperti bunga liar. Tirai putih berayun lembut diterpa angin, cahaya biru lembut menembus dari luar. Dinding ruangan tampak seperti kristal yang berkilau.

“Kamu sudah bangun?” suara itu merdu tapi dingin. Seorang wanita berambut hitam legam muncul dari balik tirai. Kulitnya pucat, matanya memantulkan cahaya bintang.

“Siapa kamu?” tanya Darlya ketakutan.

“Aku Dolores.” Jawabnya dingin. “Aku tak ingin banyak bicara sekarang. Kamu tidurlah, aku akan menjelaskan semuanya besok.” Nada suaranya membuat bulu kuduk Darlya berdiri.

Darlya tak berani membantah, ia mengangguk, dan memejamkan matanya.

✨✨✨

Pagi Eteria datang dengan cara yang indah: langit berwarna keemasan, dan udara terasa hangat seperti pelukan. Burung-burung berwarna ungu terbang berputar, bernyanyi dengan nada merdu. Rumput di luar berkilau seperti ditaburi berlian.

“Kamu bisa menjelaskan semuanya sekarang.” Ujar Darlya. Meski ia merasa takut, ada rasa penasaran yang bergejolak kuat dalam hatinya. 

“Ini adalah Eteria, tempat yang hanya ada kebahagiaan di dalamnya.”

“Lalu... bagaimana aku bisa sampai di sini?.”

Bukannya menjawab pertanyaan Darlya, Dolores bertanya balik dengan senyum yang menyimpan berbagai makna. “Bukankah kau menginginkan kebahagiaan?.”

“Apa maksudmu?.” Darlya mengernyitkan dahi, tak paham dengan apa yang diucapkan Dolores.

“Seperti yang aku katakan, di sini hanya ada kebahagiaan. Kamu bisa meraih semua impianmu di sini. Tapi tentu ada yang harus kamu tukar, agar bisa mendapatkan itu semua.” Ucapnya. Ia menatap lekat manik milik Darlya. Dan berkata, “Kamu harus menukarkan ingatanmu.” 

Darlya terdiam. Ia teringat wajah ibunya, tangisan adiknya. Hatinya bergolak. Namun ambisinya terlalu kuat. “Aku… aku mau tinggal di sini.” 

Dolores mengangkat sebelah alisnya. “Yakin?”

Darlya kembali bimbang, tapi ia tetap memilih untuk tinggal di Eteria. Ia tak ingin kembali hidup susah, dan harus mengubur impiannya. “Aku tidak mau pulang, aku tidak mau menderita lagi.”

“Baiklah.” Dolores menutup mata Darlya dengan lembut. Cahaya menyilaukan menyelimuti tubuh gadis itu. Ingatannya terlepas seperti serpihan kaca yang jatuh.

✨✨✨

Di Eteria, Darlya menjalani hidup dengan bahagia. Namun di balik senyumnya, ada kehampaan yang ia rasakan setiap malam. Ketika ia menatap langit bertabur bintang, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. 

Langit kelabu, awan tebal menggantung rendah, membuat langit tampak sesak. Saat berjalan santai menyusuri Eteria. Darlya melihat sosok yang tak asing baginya, di sebrang jalan. Sosok tersebut semakin mendekat ke arahnya. Hingga... brukk, tubuh Darlya roboh seketika, seakan diterpa oleh angin. 

Sosok tersebut melihat—Darlya tergeletak tak berdaya. Ia tersenyum tipis, dan segera pergi membawa tubuh Darlya.

✨✨✨

“Bangun, lihatlah!” Dolores menggertak, membuat Darlya terperanjat. “Apa yang kamu rasakan selama ini hanyalah ilusi,” ucap Dolores dengan suara yang terdengar pilu. “Kamu kehilangan sesuatu yang paling berharga—dirimu sendiri.”

Darlya terdiam, dadanya terasa sesak. Ingatannya kembali, membuat kenangan demi kenangan mulai membanjiri pikirannya: wajah ibunya yang letih, tangisan adiknya, janji untuk melanjutkan sekolah. Semua ingatan itu berputar cepat seperti pusaran air yang menariknya kembali. 

“Aku… aku rindu rumahku, aku rindu ibuku. Aku ingin kembali.” Suara Darlya bergetar, namun ada ketegasan di matanya.

Dolores menatapnya lama. “Kalau itu keinginanmu, aku bisa mengembalikanmu. Aku akan tetap di sini untuk menggantikanmu.”

“Kenapa... kenapa kamu mau menggantikanku?,” 

Dolores tersenyum samar, “Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan diri sendiri, hanya untuk memenuhi ambisi yang tak ada habisnya. Dulu aku sama denganmu, aku juga seseorang yang memilki ambisi sangat besar.” Dolores berkata, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kini... aku hanya bisa menyesali semuanya. Jika waktu bisa diputar ulang, aku akan memilih kembali ke dunia asalku, dan bertemu orang tuaku, meski untuk yang terakhir kalinya. Aku... aku ingin meminta maaf pada mereka.” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama memendam sesuat yang tak bisa ia ungkapkan—Dolores menangis. Ia merindukan orang tuanya.

Alih-alih membiarkan dirinya menangis, dolores menepis kasar air matanya. “Ahh sudahlah. Jadi bagaimana?, apa kamu mau kembali ke dunia asalmu?. Aku akan menggantikanmu di sini.”

“Tidak! Kamu tidak boleh tetap di sini. Ayo... ayo ikut aku kembali, kita bahagia bersama-sama.” Darlya menggengam erat tangan Dolores, matanya berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya Dolores tersenyum tulus. Ia melepas perlahan genggaman tangan Darlya, dan berkata. “Sudahlah, mungkin ini hukuman bagiku, karena aku terlalu memperdulikan ambisiku, hingga aku mengorbankan—diriku sendiri. Sekarang kamu sudah mengerti, Darlya. Kamu bukan lagi anak yang melarikan diri dari masalah. Kembalilah… wujudkan impianmu.” 

Cahaya putih menyilaukan mulai menyelimuti tubuh Dolores. Wajahnya perlahan memudar, namun senyumnya tetap ada.

“Terima kasih… untuk segalanya, Dolores” bisik Darlya, sebelum tubuhnya tersedot ke dalam pusaran cahaya.

✨✨✨

Ia terbangun di kamarnya, peluh dingin membasahi dahi. Matahari pagi masuk melalui jendela. Darlya berlari ke ruang tengah, melihat ibu sedang menimang adiknya.

“Ibu!” Darlya memeluk ibunya erat. Sang Ibu terkejut, namun balas memeluk anaknya.

Sejak hari itu, Darlya berubah. Ia tetap melanjutkan sekolah, sambil membantu ibunya bekerja. Setiap kali merasa lelah, ia teringat Dolores—sosok yang mengorbankan kebahagiaannya demi memberi Darlya kesempatan kedua.

Di dalam hatinya, Darlya berjanji: 

“Aku akan bahagia, bukan karena melarikan diri, tapi karena berjuang.”

✨✨✨


Karya: Daniela Aurora Azzahra | Daurazz

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gratia

TIPS CEPAT MENULIS CERPEN