Gratia
Gratia Malam itu hawa terasa mencekam, cahaya rembulan menembus celah jendela sebuah kamar. Di sudut ruangan yang terasa pengap, ada seorang gadis—bernama Alena, ia adalah seorang tunanetra. Alena teringat akan semua perkataan temannya yang menyakitkan, pertikaian orang tuanya yang tak pernah selesai. Meski begitu Alena tak pernah mengeluh, ia selalu menghadapinya dengan sabar. Ia tertunduk lesu, tangannya merengkuh kedua lutut, seraya menenggelamkan kepalanya. Suara hembusan napasnya memburu, badannya bergetar hebat. “kenapa… kenapa… kenapa…” suaranya serak, semakin lirih. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Alena meraba sekeliling, hingga ia meraih buku sketsanya, dan sebuah pensil. Ia mencoret-coret kertas tersebut, tak beraturan. Meski rasa gundah di hatinya Bagai badai yang terus menerjang, coretan tanpa makna itu berarti baginya. 🥀🥀🥀 Flashback on “Huu huu huu… dasar buta.” “Kasihan tidak bisa lihat.” Begitulah kira-kira yang didengar setiap harinya o...